Persiapan Pertemuan Akbar Alumni PSPBSI

Panitia Pertemuan Majelis Alumni sedang melakukan rapat koordinasi di Kantor Haluan Riau Pekanbaru. (mir/13).

Kampus PSPBSI

Mahasiswa PSPBSI sedang melaksanakan seminar di Kampus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. (rich/09).

Pertemuan Penulis Serumpun

Pembicara dari Indonesia Prof. Suwardi MS, Tenas Effendi, dan moderator Abel Tasman, sedang memaparkan makalah pada Pertemuan Penulis Serupun. Kegiatan ini dihari oleh penulis dari Indonesia dan Malaysia. (rich/09).

Makan Bersama

Mahasiswa PSPBSI tampak makan bersama di sela-sela aktivitas kuliah. (rich/09).

TIM Akreditasi Nasional

TIM BAN sedang melakukan verifikasi di Kampus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Akreditasi PSPBSI saat ini 'B'. (ipul/2013).

Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Agustus 2009

Prima Dewi Arlusy

Lahir dari pasangan Sarman Arlos dan Sulasmi gadis manis dan manja yang diberi nama Prima Dewi Arlusy. Tepatnya di Rengat Pada 17 Oktober 1989. Adik dari Riolis Bherida ini mengaku sangat mencintai Kebudayaan Melayu Riau. Itu sebabnya, ia sangat bersemangat mengikuti proses audisi yang diselenggarakan Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyaratan Universitas Riau beberapa waktu lalu.

Akhirnya iapun terpilih masuk 16 besar yang akan diberangkatkan ketiga negara yakni Malaysia, Singapura, dan Thailand untuk mengikuti program hibah bersaing yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Nasional (Dirjen Dikti) yang diberi nama “Muhibah Seni Budaya Melayu Riau: Melayu Sejati’’. Kakak kandung Sharla Nurcindy Septrindero ini mengaku mempunyai motto dalam hidupnya, ‘’Semakin banyak gagal, maka akan semakin dekat dengan keberhasilan’’.

Wanita manis yang akrab disapa Dewi ini bercita-cita menjadi seoarang akademisi (dosen). Saat ini ia k
uliah di Jurusan Bahasa Jepang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau semester 4. Menjadi pendidik itu sebuah cita-cita yang mulia, katanya. Sepintar dan berkuasa apapun seseorang saat ini, itu semua berkat kerja keras seorang pendidik pada masa sebelumnya.

Dewi sangat mencintai tari, boneka, dan dunia modeling. Tak terhitung lagi boneka yang sudah dikoleksinya. Dan tak terhitung juga kali berapa dia menari. Sewaktu di SMA, ia bergabung dengan sanggar tari “Adelwis” di kota Rengat, Osis dan Pramuka. Saat ini Dewi bertekad serius latihan bersama Tim Muhibah. Selain itu wanita pemilik lengsung pipi ini, juga aktif diorganisasi kedaerahan di Kabupaten Indragiri Hulu.

Fotografer: Arza Aibonotika
Lokas: Kampus UR Gobah Pekanbaru
Narasi: www.puskalam.com

Minggu, 02 Agustus 2009

Okta Fitriance

Gadis periang ini selalu tersenyum jika anda bertemu dengannya, namun bukan bearti ia selalu tersenyum tak karuan dengan siapa saja. Tapi yang jelas, dara manis kelahiran Pulau Batam 16 Oktober 1987 ini punya prinsip dengan siapa saja senyum itu diberikan! Salah satunya untuk orang-orang tersayang tutur Okta, begitu ia biasa disapa.

Perempuan yang memiliki multi talenta ini lahir dari pasangan berbahagia Efridawati dan Nursal. Okta mengaku namanya cukup memiliki makna yang filosopi “Okta Fitrianche” Okta yang artinya dilahirkan di bulan Oktober, Fitri adalah yang suci (oktober yang suci). Namun ia mengaku lebih senang dipanggil Tata. Menjadi anak ke-3 dari 4 bersaudara merupakan kebahagiaan yang tiada tara baginya.

Ada abang, kakak, dan adik yang menyempurnakan kebahagiaan gadis berkerudung ini. Sekarang ia telah berumur 21 tahun, masa dimana kedewasaan telah bertengger dipundaknya, “tak ada kata untuk bermain lagi, kalau ingin meraih cita-cita”, ujar tegas.

Terlahir dan besar di lingkungan budaya Melayu, Tata mengaku sangat mencintai budaya leluhurnya ini. Karena itulah, ketika ia melihat pengumuman penerimaan peserta Muhibah Universitas Riau, Tata tanpa aling-aling langsung tancap gas mengikuti audisi Tim Muhibah UR. Alhamdulillah! desahnya lembut ketika dinyatakan lulus sebagai Tim Muhibah.

Sehari-hari berkutat di Hubungan Internasional FISIP UR, Tata masih sempat meluangkan waktunya untuk mengukuti kegiatan di luar kampus menyalurkan bakat dan kemampuannya di dunia broadcasting, tepatnya di salah satu radio swasta di Pekanbaru CBS FM, selain penyiar ia juga seorang Program Director sekaligus merangkap menjadi Announcer.

Ketika ditanya tentang cita-cita, gadis yang memiliki motto ‘Mencintai Seni Budaya karena saya sangat menghargai sebuah Karya Sastra’ ini mengaku ingin menjadi diplomat agar bisa membela kepentingan bangsa di mata dunia internasional.

"Kalau bisa Duta Besar", akunya jujur dengan senyum yang selalu menyeruak dibibir mungilnya.



Fotografer: Arza Aibonotika
Lokasi: Pekanbaru
Narasi: www.puskalam.com



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites